Jumat, 25 Juni 2010

Kiat Memotret dari Dalam Mobil



Bepergian dengan mobil bukan berarti lalu waktu kita hilang begitu saja selama perjalanan. Sesungguhnya selama bepergian dengan mobil, kita berkesempatan mendapatkan foto-foto human interest. Kebiasaan berlalu lintas orang Indonesia yang masih sangat mengabaikan faktor keamanan adalah ladang perburuan foto yang luar biasa. Agar Anda tidak ikut menjadi bagian dari orang yang mengabaikan keselamatan lalu lintas ini, perlu diingatkan agar Anda tidak memotret saat mengemudi. Memotretlah saat Anda duduk sebagai penumpang saja.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bisa memotret dari dalam mobil yang bergerak. Hal terpenting adalah kesiapan Anda menghadapi adegan-adegan yang bisa muncul setiap saat.

Adegan-adegan mengejutkan itu antara lain seperti yang bisa disaksikan di halaman ini, difoto oleh para wartawan Kompas dari sejumlah daerah di Indonesia. Di Bali, misalnya, seorang wanita bisa mengendarai sepeda motor sambil di kepalanya bertengger beban minuman dalam botol yang pasti tidaklah ringan.

Atau juga sebuah sepeda motor di daerah Bantul, Yogyakarta, yang mampu mengangkut ayam sampai puluhan ekor sekaligus. Demikian pula berbagai kenekatan orang bersepeda motor di Jakarta dengan antara lain membawa kerupuk dalam jumlah sangat banyak, atau anak-anak yang menumpang bajaj dengan cara jauh dari aman.

Kamera yang bisa dipakai untuk memotret dari dalam mobil tidak harus kamera tertentu. Asalkan dia punya lensa dengan rentang sekitar 24 milimeter sampai 70 milimeter (ekuivalen kamera 135 film), kamera itu siap dipergunakan.


Pilihan ISO bisa dipilih sekitar ISO 200 sampai ISO 800 tergantung kondisi jalan. ISO tinggi diperlukan agar Anda bisa mendapatkan kecepatan rana yang memadai dalam meredam guncangan kendaraan. Secara umum, ISO 400 adalah pilihan ISO yang terbaik dan teraman.

Diafragma yang paling sesuai untuk pemotretan dalam mobil adalah sekitar 5,6. Dengan pilihan ini, Anda mendapatkan depth of field (ruang tajam) yang cukup, sementara kecepatan rananya juga cukup tinggi. Kalau Anda mau lebih praktis, pilihlah mode pencahayaan A (aperture priority) pada ISO 400 dengan bukaan diafragma 5,6 untuk segala sisi pemotretan.

Hal-hal lain

Selain kamera yang siap bidik, beberapa hal lain wajib Anda perhatikan, antara lain:

  1. Kaca mobil harus dalam keadaan bersih. Manakala hari hujan, bersihkanlah butiran-butiran air dengan wiper terlebih dahulu.
  2. Jangan ada benda berwarna cerah di dashboard karena bayangan benda ini akan ikut terpotret. Kalau perlu, letakkan selembar kain hitam untuk menutup dashboard Anda agar imaji dari luar benar-benar bersih dalam rekaman foto nantinya.
  3. Manakala harus memotret saat kondisi jalan sangat tidak rata, usahakan agar tangan Anda bisa berfungsi sebagai peredam getaran. Posisikan kedua tangan yang memegang kamera bisa mengayun bebas melindungi kamera dari getaran yang terlalu menyentak. Kecepatan rana 1/1.000 detik secara umum mampu meredam getaran kondisi jalan aspal terburuk sekalipun.
  4. Lakukan kerja sama dengan pengemudi untuk memotret objek yang kebetulan berada tepat di depan mobil kita. Minta pengemudi agar bisa menyesuaikan kecepatan selayaknya. Arbain Rambey

Kamis, 24 Juni 2010

Tips Background yang Blur


Background blur memang pas untuk menguatkan penampilan obyek utama.
Untuk memperoleh background yang blur, ukuran sensor, lebar aperture dan jarak fokus lensa (focal length) sangat menentukan. Konsekuensinya, backgorund yang blur ini lebih sulit diperoleh jika menggunakan kamera poket. Alasannya:Sensor kamera poket sangat kecil. Agar gambar dapat tampil tajam, ukuran diameter sensor kamera harus lebih besar daripada lebar aperture. Akibat ukuran sesnsor yang kecil, tidak mungkin digunakan aperture lebar (misalnya f/1.8 atau f/1.4). Rata-rata kamera poket memiliki setting aperture terendah f/3.6, hanya beberapa saja yang memiliki setting f/2.8

Focal length kamera poket bukanlah panjang fokus secara fisika, tetapi panjang ekuivalen terhadap lensa yang digunakan pada media film 35 mm. Lensa dengan jarak fokus 300 mm pada kamera poket sesungguhnya adalah 66 mm pada kamera film.
Tetapi 'sulit' bukan berarti 'tidak mungkin'. Untuk memaksimalkan blur pada background, berikut beberapa patokan yang dapat digunakan:

Jarak antara obyek utama dan background harus cukup jauh. Sebaiknya jarak obyek ke background lebih besar daripada jarak obyek ke kamera.
Gunakan jarak fokus atau zoom terpanjang (tele-end), sesuaikan jarak obyek utama dengan jarak fokus ini.

Gunakan mode Aperture Priority (A, Av) dan pastikan untuk menempatkan setting pada bukaan paling lebar (angka paling kecil, misalnya f/2.8 atau f/3.6)

Pada kamera digital poket yang tidak memiliki mode Aperture Priority, gunakan mode portrait atau - jika memungkinkan - mode makro.

Pada kamera DSLR, gunakan lensa dengan bukaan lebar, misalnya f/1.4 atau f/1.8
Semoga bermanfaat!
dari berbagai sumber

Rabu, 16 Juni 2010

Kiat Memotret Saat Berwisata

Menurut survei asosiasi pembuat kamera Jepang tahun 2004, alasan terbesar orang membeli kamera adalah untuk menemani bepergian. Fotografi memang teman utama dalam dunia wisata karena dengan sebuah foto, banyak hal bisa didapat.

Bagi sang turis, itu adalah bukti bahwa dia sudah sampai di tempat-tempat indah. Sementara bagi sebuah negara, fotografi adalah sarana untuk menarik kedatangan turis ke wilayah yang dimilikinya. Devisa yang didatangkan dari sektor wisata sungguh besar.

Namun, walau tampaknya mudah, memotret saat berdarmawisata kadang malah bisa menjadi hal yang merepotkan. Juga, kalau dikerjakan seadanya tanpa bekal pengetahuan yang cukup, bisa-bisa tempat yang indah malah tampak kumuh di foto yang dihasilkan.

Dalam berdarmawisata, janganlah membawa perlengkapan kamera terlalu banyak karena itu akan malah merepotkan. Selain berat, ketidakringkasan barang bawaan akan membuat banyak kesalahan-kesalahan tidak perlu.

Dua lensa cukup

Secara umum, dalam berdarmawisata, sebagian besar foto kita akan dihasilkan cahaya siang yang terang benderang. Maka, sesungguhnya tidaklah terlalu perlu membawa lensa-lensa dengan bukaan 2,8 atau lebih besar lagi. Lensa-lensa dengan bukaan terbesar 3,5 atau 4 sudah cukup.

Banyak orang yang sangat fanatik dengan mutu, lalu memilih membawa lensa-lensa cepat (bukaannya besar) yang berat. Pengalaman membuktikan, orang yang membawa lensa-lensa berat mendapatkan foto yang lebih bagus. Namun, jumlah fotonya sangat sedikit dengan pilihan terbatas pula.

Selain kamera DSLR, kamera saku juga tidak bisa diabaikan kepraktisannya. Pilihan antara memakai kamera saku dan kamera DSLR adalah pilihan antara bepergian menyenangkan sambil membawa foto-foto penuh kenangan atau bepergian dengan fokus utama mendapatkan foto.

Dalam bepergian sebaiknya membawa lensa cukup dua buah dan keduanya zoom. lensa yang paling sering menempel di kamera adalah lensa rentang sekitar 18-55 milimeter atau yang setara, misalnya 17-40 atau 12-60. ini adalah rentang yang akan paling sering dipakai.

Lensa kedua, yang sebaiknya dipasang di kantung lensa yang tersangkut di ikat pinggang agar mudah dijangkau, dianjurkan punya rentang 70-200 milimeter atau 70-300.

Kalau masih mencadangkan memotret di ruang sangat sempit (dan ini jarang sekali), bolehlah di dalam tas ada lensa tambahan super-lebar, misalnya 8 mm atau lensa mata ikan lain.

Hal utama dalam foto wisata adalah berfoto dengan latar belakang sebuah bangunan terkenal.

Jangan malas

Hal terpenting lain dalam berwisata adalah kenyataan ini, walau ini adalah saat bersantai, bukan berarti harus melulu bermalas-malasan. Bangunlah sepagi mungkin dan jangan tidur pada sore hari.

Pagi dan senja hari adalah saat terbaik untuk memotret pemandangan alam. Pada pagi hari udara masih bersih, langit belum terlalu berawan, dan warna cahaya yang ada hangat kekuningan. Lakukan survei kecil-kecilan untuk menemukan tempat terbaik itu.

Last but not least adalah kenyataan bahwa adegan-adegan bagus sering muncul tak terduga. Itu sebabnya kamera harus selalu dalam genggaman dan lensa yang terpasang adalah lensa dengan rentang yang paling sering dipakai itu.

Secara umum, fotografi saat berdarmawisata tidaklah berbeda dengan fotografi yang lain. Pembeda utama adalah kamera kita lebih mudah mengalami kerusakan yang, antara lain, datang dari ancaman air laut, kabut, atau benturan dengan batu.

Terlalu berhati-hati dalam membawa kamera membuat kita sulit mendapatkan gambar yang baik. Tetapi, terlalu gegabah juga akan menghentikan peluang kita mendapatkan gambar kenangan. maka, Andalah yang bisa mengatur sendiri bagaimana kamera yang sudah dibeli dengan harga mahal bisa sungguh-sungguh berguna. Mudah-mudahan bermanfaat...

Welcome to My Blog

Selamat Datang bagi para pengunjung blog ferry mochtar photography ini..silahkan melihat hasil karya saya

klo ada kritik dan saran tulis aza..
klo sekiranya ada yg kurang bagus kasih tau kami
kalo bagus beritahukan ke orang lain