Sabtu, 10 Juli 2010

Pencahayaan

Cahaya adalah salah satu elemen yang terpenting dalam fotografi. Bayangkan jika kita memotret di ruang gelap yang tidak ada cahaya sama sekali, maka akibatnya tidak ada satu imaji pun yang ditangkap, alias gelap total. Sebaliknya jika film atau sensor digital mendapat cahaya yang cukup dengan porsi yang tepat(tidak terlalu terang, tidak juga terlalu gelap) akan menangkap imaji dengan baik. Komponen pada kamera yang mengatur masuknya cahaya adalah diafragma(bukaan lensa) dan shutter speed (kecepatan rana).

Cahaya merupakan suatu unsur utama dan terpenting dalam fotografi. Tanpa adanya cahaya yang memancar tak terwujud sebuah foto. Karena hal itu maka peranan cahay dalam pemotretan menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan terutama pada efek yang ditimbulkannya. Berhasilnya memanfaatkan keberadaan cahaya menentukan keberhasilan sebuah pemotretan.

Dari sisi pencahayaan dengan memilih sudut pemotretan tertentu akan menghasilkan foto yang mungkin saja menarik karena telah mempertimbangkan sudut datangnya sinar terhadap subyek. Dalam hal ini bisa saja subyek sengaja ditempatkan pada sisi dimana sinar tajam (mungkin sinar dari arah belakang atau samping), sehingga menambah dramatis.

Dan kerana itulah sangat dianjurkan seorang fotografer dalam menentukan sudut pemotretan sudah memperhitungkan dan memperkirakan akan memperoleh foto yang artistic dan menarik sesuai dengan cahaya atau pencahayaan.

Bila cahaya yang sangat dibutuhkan dalam pemotretan kurang memenuhi syarat untuk menghasilkan sebuah foto normal maka pasti akan timbul masalah dalam pelaksanaan pemotretan.

Tindakan yang harus dilakukan seorang pemotret kala menghadapi kondisi cahaya demikian adalah melakukan pemotretan dengan menggunakan cahaya buatan atau lampu kilat. Lampu kilat itu sendiri bisa apa saja, yang terpenting sebuah lampu kilat harus dapat menyala dengan tepat (sinkron antara nyala lampu kilat dengan membukanya rana kamera) agar bisa menghasilkan foto yang baik. Karena itu ketepatan penyalaan lampu kilat dengan membuka rana kamera sangat penting. Kalau tidak maka cahayanya tidak akan tertangkap sempurna pada foto.

Dengan memahami teknis dasar penggunaan lampu kilat secara benar, memang bisa diharapkan akan mendapatkan hasil pemotretan yang baik, minimal tidak gagal. Akan tetapi sesungguhnya hanya dengan menguasai teknik pemotretan dengan cahaya lampu kilat saja belum cukup.kemungkinan besar hanya akan menghasilkan foto yang berkesan dibuat-buat, tidak alami dan datar. Selain itu juga sering menampakkan subyek dengan bayangan hitam tebal disampingnya sehingga sering merusak keseluruhan foto.

Dengan cahaya terpantul maka cahaya akan menyebar secara merata dan intent\sitasnya melemah- menyebabkan berkurangnya intensitas cahaya yang diterima subyek. Berdasarkan pengalaman melakukan pemotretan dengan cara bouncing yang perlu dilakukan adalah mengoreksi pengukuran pencahayaan dengan sedikit menambah bukaan angka diafragma.

Selain itu juga dalam pemotretan dengan teknis bounce yang mengggunakan bisang pantul harus teliti. Karena bidang pantul berwarna merah atau biru bisa merusak hasil foto. Warna – warna itu akan mempengaruhi warna foto secara keseluruhan.

Dalam istilah fotografi, imaji yang terlalu terang disebut over exposure, sebaliknya yang terlalu gelap disebut under exposure.

Bagaimanakah cara mengetahui berapa kombinasi antara diafragma dan shutter speed yang tepat pada waktu kita akan memotret?

Cahaya adalah dengan menggunakan alat pengukur cahaya atau yang biasa disebut light meter yang ada pada kamera. Kita bisa melihat petunjuk/indicator light meter tersebut melalui jendela bidik(viewfinder) kamera, atau melalui layar LCD pada badan kamera. Indicator light meter mempunyai bentuk yang bermacam-macam, ada yang berbentuk jarum, lampu LED, dan berbentuk digit (lihat ilustrasi jenis-jenis indicator light meter).

Pada jendela bidik kamera terdapat lightmeter yang berfungsi untuk menunjukkan kepada anda apakah cahaya yang diukur oleh kamera cukup (0), kurang (-) atau berlebih(+). Lightmeter ini juga digunakan untuk ukuran kompensasi eksposure.

Cara pemakaiannya pun sebenarnya sama saja. Bila jarum atau lampu LED pada posisi ”0” diantara tanda + (plus) dan – (minus), berarti kombinasi antara diafragma dan shutter speed tersebut akan menghasilkan imaji yang lebih terang(over exposure) dari imaji normal. Dan jika posisi jarum atau lampu LE berada pada posisi – (minus), maka kombinasi diafragma dan shutter speed tersebut akan menghasilkan imaji yang lebih gelap (under exposure).

Kompensasi eksposure harus dilakukan pada kondisi obejk yang tidak sama terangnya dengan latar belakang, mengingat sebagian besar kamera akan melakukan metering dengan mengukur daerah yang paling terang terlebih dahulu. Apabila objek terlihat lebih gelap daripada latar belakang, anda perlu menambah cdengan kompensasi positif. Bila objek tidak terlalu terang daripada latar belakang. Anda perlu mengurangi cahaya dengan kompensasi negative. Istilah kompensasi yang di gunakan “stop”.

Saat memotret objek gelap, kamera akan melakukan metering dan mengira objek under-exposure, kamera akan menambah eksposure, dan objek menjadi terlalu terang. Oleh karena itu perlu penguranagn jumlah cahaya dengan cara kompensasi minus beberapa stop.

Saat memotret objek yang putih, kamera akan melakukan metering dan mengira objek over-exposure, kamera akan mengurangi eksposure, sehingga objek menajdi terlalu gelap. Oleh karenanya, perlu penambahan jumlah cahaya dengan cara kompensasi plus beberapa stop.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar